perempuan, mencari aman lewat botol semprotan

Bukan tanpa alasan siang itu kuputuskan untuk membeli semprotan gas air mata. Walau bentuknya semungil botol parfum, namun semprotan itu membuatku merasa aman selama bekerja di kantor.

Setelah pembelian impulsif itu lunas, seorang kawanku berkomentar begini, “Reaksi kamu tuh terlalu berlebihan.” Aku cuma menjawab, “Anak perempuan bapak ‘kan seumuran saya. Coba bapak belikan satu untuk dia, siapa tahu dia butuh.” Memang agak seram menyarankan pembelian semprotan gas air mata untuk seorang anak perempuan. Namun mau bagaimana lagi?

Semprotan itu tak pernah lepas dariku. Selalu ada dalam tas tangan, terkubur dalam kantung celana, kuselipkan di saku jaket setiap hari. Kalau-kalau aku perlu bekerja ekstra hingga lewat adzan maghrib, aku tidak perlu mengkhawatirkan adanya pria berumur di kantor yang fantasinya ingin punya istri muda. Setidaknya aku punya semprotan itu untuk membela diri – atau memberi waktu lebih untuk lari.

Waktu berlalu. Pria dengan fantasi itu juga sudah tidak muncul. Resign, kata beberapa orang. Namun di hari ia berpamitan dengan rekan-rekan sejawat, ia berusaha menggamit pinggangku di depan banyak orang. Tidak, terima kasih – aku menghindar dengan mulus. Tidak ada yang sadar. Semua orang akan mengenalnya sebagai laki-laki sukses yang sebentar lagi mengundurkan diri. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang tahu kalau berulang kali ia mengajakku sekadar santap siang bersama atau sebuah traktiran. Tidak ada yang tahu kalau berulang kali juga aku bilang tidak mau.

Waktu berlalu. Semprotan gas itu masih lekat di saku. Dan nomornya sudah terblokir dari aplikasi pengirim pesanku.

Namun tidak ada yang lebih membekas – selain malu – dari rasa jijik dan takut.

introduction // first entry

to all the readers i haven’t met yet,

just for the record, english isn’t my first language. i’m terribly sorry if my english is not that good and i hope you all won’t mind. i’m filling my blog with two languages, english and indonesian.

i’m writing this in my office because i openly hate my job. i hate it so much i could die by just hating it.

oh, sorry. pardon my bluntness. i am catherine, i am almost nineteen at present. i just accepted in a small company almost three months ago. i’m working as a finance staff with tons of tasks i don’t even fully understand. well, maybe that caused by a) i’m from a vocational school with secretary major and b) i’m not a fan of mathematics. i’m started to think that this is all about karma; one day when i was in school, i prayed to God that my math teacher stepped on a Lego so she couldn’t come to the class. turns out, i got a job in finance department and i can’t do anything right since i came here.

sometimes, i imagine what if i went to college. meet new friends, argue with professors, be a normal teenager… but reality never failed to woke me up. “you’re broke as hell, don’t even think about it. now work your ass off and may you dead inside!” reality exclaimed. so, i woke up and stopped imagining. i wake up every day and pretend to not dying, that what it felt like to stopped imagining.

but recently, i started to imagine again. not about college. not about get my ass in a popular university. something else. something different. something better.

shit, my boss just saw me blogging. i gotta go. fasten your seatbelt because this is gonna be a long ride!