Tentang Beling Kaca dan Rasa Malas

⚠️trigger warning: darah, luka⚠️

Mungkin sudah terlambat untukku, tapi tidak untuk kalian para pembacaku; kuharap kalian jangan sampai menunda-nunda untuk menutup toples kaca dengan benar (atau menunda-nunda hal lain). Karena menunda-nunda/procrastinate sering jadi penyebab masalah-masalah kecil maupun besar.

Bertahan sebentar dulu ya untuk menyimak ceritaku.

Beberapa hari lalu aku memutuskan untuk membuat teh. Setelah mengiris jeruk nipis dan menuang air panas, aku hendak menambahkan gula agar rasanya manis (karena orang-orang salah ketika mereka bilang makan/minum sesuatu bakal terasa manis sambil memandang wajah mereka. Besar kemungkinan itu cuma kelakar, atau umpan agar kamu setuju kalau paras mereka manis seperti gula). Toples penyimpanan aku terbuat dari kaca, bekas menyimpan kue kering hari raya. Setelah itu, aku memutuskan untuk menutup toplesnya sembarangan dan membatin, entar saja aku tutup setelah minum teh ini.

Seperti yang sering terjadi dalam hidupku, aku lupa. Teh itupun habis dan aku kembali melanjutkan aktivitas. Beberapa jam kemudian ketika aku berada di kamar, terdengar suara barang yang pecah. Aku segera keluar dan mencari sumber suara.
Ternyata ibu aku tengah membereskan meja. Menurut ceritanya, beliau mau mengembalikan toples itu ke tempatnya dan barang pecah belah itu tiba-tiba sudah berserakan di lantai. Aku langsung teringat akan janji tadi – yang aku lupakan beberapa jam sebelumnya – dan menduga kalau ibu aku mengangkatnya dengan cara memegang tutup toplesnya (yang tidak tertutup dengan benar, sayangnya ibuku tidak tahu akan hal ini). Alhasil, toples itu pun pecah.

“Untung gulanya sudah habis,” kudengar ibu bergumam sambil mengambil sapu dan pengki.

Pecahan-pecahan kecil dibuang di dalam bungkus plastik, namun ia agak kebingungan ketika menghadapi pantat toples yang pecahannya lumayan besar. “Aku aja yang rapihin ini,” kataku dan mulai mengumpulkan kertas-kertas bekas.

Pecahan kaca itu tentu saja berbahaya. Pikiranku langsung tertuju pada petugas kebersihan yang akan mengosongkan tempat sampah jika tangan mereka terluka karena pecahan kaca ini. Aku berusaha membungkus beling dengan bersusah payah. Usahaku ternyata sulit karena membutuhkan kehati-hatian ekstra agar tidak terkena pinggiran toples yang tajam. Pada akhirnya aku mampu membungkus beling besar itu dengan berlapis-lapis kertas bekas yang diikat dengan karet dan dibungkus lagi dengan berlapis-lapis kantong plastik.

Setelah itu, aku melihat beberapa titik merah gelap di bungkusan. Disitulah aku sadar kalau titik-titik kemerahan itu adalah darah yang berasal dari jempol dan jari telunjukku.

Sambil membersihkan luka dan mengobatinya dengan obat merah dan hansaplast, aku marah-marah dalam hati dan berjanji tidak akan memakai barang pecah belah untuk rempah-rempah dapur. Namun di tengah kekesalan itu, aku teringat lagi akan janji yang kubuat sebelumnya, ketika aku selesai menuang gula dan hendak menutup toples.

Seperti yang lazim terjadi pada orang-orang yang menyesal, aku menyesal telah menunda-nunda cuma untuk menutup toples kaca. Padahal insiden kecil ini bisa dihindari; kalau aku menutup toples dengan benar > toples kacanya takkan pecah ketika dipindahkan > aku tidak akan membungkus pecahan beling sialan itu > dan jari-jariku tidak akan terluka.

It’s not a rocket science, yet I was too late to understand that.

Menunda-nunda, kalau dalam kasusku, berawal dari janji yang kubuat dengan diriku sendiri dan pada akhirnya kuingkari juga. Sambil mengusap-usap jariku yang terbalut hansaplast, aku sadar kalau selama ini banyak hal yang bisa kulakukan dengan waktu yang kubuang dari menunda-nunda. Aku menunda menutup toples, hasilnya jariku terluka karena toples kaca tadi pecah. Aku menunda bangun pagi, hasilnya aku tak jadi lari pagi dan cuma bermalas-malasan. Aku menunda melamar pekerjaan, hasilnya aku jadi lupa melamar (dan bisa saja lowongan yang hendak kulamar akan menerimaku nantinya?) Kalau kupikir lagi, hal yang biasa kutunda adalah hal-hal kecil yang efeknya bakal membesar cepat atau lambat.

Aku menghela napas dan mengembalikan obat merah ke tempatnya. Kali ini, aku langsung menutup botol obat merah itu rapat-rapat.

first kiss

i kissed someone last year.
his kiss was so cold,
and when his lips touched mine;
he could feel my sorrows and bones
his arms wrapped my body as we became one
he could feel my unholy thoughts and my scratched skin
and then i knew that he wasn’t the best kisser—
but he was the one who i could turn in to,
welcoming arms to come home to,
and my old friend, too.

he was Loneliness,

and i kissed him last year.

i heard you’re not a fan of valentine’s day

i know you despise valentine’s day;

to you, this kind of event is silly and

you cursed people who celebrate it

every year.

to you, valentine’s day is only a day

where candy companies are making their highest profit;

thanks to high schoolers who bought

a bar of chocolate for their crush.

to you, tomorrow is another sunday;

waiting to be over,

a weekend that finally comes
to an end.

listen carefully because i shall not repeat what i said today.

i know you despise valentine’s day;

but my feeling is unchanged and

my affection stays the same.

i’m in love with you.

Sayur Kemangi

Kutelusuri pasar di malam hari untuk memasakkanmu sayur buat hari ini
Pasar malam beda rasanya dengan pasar pagi;
Karena ramai oleh janda-janda manis yang berjualan ayam mati
Ada juga mas-mas bermuka masam yang menjajakan petasan,
Entah buat perayaan apa, yang penting lapaknya buka saja

Banyak penjual sayur di kanan kiri, aku berhenti ke satu meja untuk membeli jagung dan kacang tanah seplastik
(dua puluh, mbak) kusorongkan uang sepuluh ribuan dua lembar seraya berpindah lagi

Kali ini kubelanjakan uangku untuk sebongkah nangka dan buah naga merah
sambil melewati jalanan Kranji yang padat oleh motor bebek dan kopling
tiiin, taaan, tiiiin, tiiiiiin (woi, maju dikit lagi bang!)
Aku tersenyum-senyum sendiri, memikirkan betapa sedapnya masakanku nanti

Langkahku sudah sampai dekat angkot namun aku lupa beli sayur kemangi!
Lantas kubalikkan langkahku ke kios sayur
sebelum naik angkot dan jalan kaki

Setibanya di rumah kita
Lampu depan mati, aku bertanya-tanya apakah janjimu pulang benar akan kau tepati?
Aku yang pulang, tapi kamu malah pergi

Daddy Issues

You took a deep breath before you exited your car with a corgi barking behind your front door. With complete exhaustion, you stepped into your tiny house and a daughter-sized loneliness welcoming you.
Her hands are cold, because she was dead before.

You wished you had someone to say you’re home to.

Your daughter (or your daughter-sized loneliness) asked about how was your day. Something she never did before, and something she would try to avoid after. You said nothing happened — which was a usual lie — because you handled lots of bitter clients and heated arguments between co-workers that day. But for some reason you did not let her listen to you.

After supper, a wife demanded some cash from you. She was not even your wife; she was just a name written on your marriage certificate. But you gave her the amount she wanted anyway.

You wished you had someone to say you’re home to.

When the girls went to sleep, you sat in your living room, where you turn your television on and try to fight off your insomnia. A corgi slept on your naked feet, and he swayed his tail when you pat his dark-coloured fur.

“I wish you could talk,” you told the corgi.

“I wish you could listen,” the corgi replied with a bark.

You want a home so badly — but this is not the one you wanted.

Maybe this is how it goes until the end.

Sains Di Balik Malam Berbintang Empunya Vincent van Gogh

Lukisan itu sangat ikonik; menggambarkan lanskap pedesaan pada malam hari, dihias oleh bintang-bintang dan didominasi warna biru. Arus udara dilukis meliuk-liuk dengan warna biru muda. Itulah lukisan Vincent van Gogh bernama The Starry Night (Malam Berbintang). Namun siapa sangka mahakarya itu menggambarkan pola turbulensi udara?


The Starry Night (sumber gambar: Tokopedia)


Selain The Starry Night yang dilukis pada tahun 1889, lukisan Road with Cypress and Star (1890) dan lukisan terakhir van Gogh, Wheat Field with Crows (1890) juga mengandung karakteristik jejak statistik turbulensi.

Dilansir dari Nature.com, Fisikawan Jose Luis Aragon dari National Autonomous University of Mexico di Queretaro dan rekan-rekan kerjanya telah menemukan bahwa karya seniman Belanda itu memiliki pola terang dan gelap yang mengikuti secara dekat struktur matematika yang dalam dari aliran turbulen 1. “Kami pikir van Gogh memiliki kemampuan unik untuk menggambarkan turbulensi dalam periode agitasi psikotik yang berkepanjangan,” kata Aragon.

Mungkin, lukisan-lukisan itu ada kaitannya dengan emosi van Gogh ketika membuatnya. Karya-karya ini dibuat ketika van Gogh mengalami gangguan dalam kestabilan mentalnya – seperti The Starry Night dan Road with Cypress and Star yang dilukis ketika ia dirawat di rumah sakit jiwa St Paul de Mausole di Saint-Remy-de-Provence. Sebelum dirawat, van Gogh mengalami mental breakdown yang menyebabkan pria itu memutliasi sebelah telinganya di Wisma Kuning, tempat tinggalnya selama di Arles, Perancis.

Road with Cypress and Star (sumber gambar: Wikipedia)
Wheat Field with Crows (sumber gambar: Wikipedia)

Wheat Field with Crows selesai dilukis tak lama sebelum van Gogh bunuh diri dengan menembak dirinya sendiri di usia 37 tahun. Teori yang sering beredar mengenai gangguan yang dialami pelukis kondang tersebut adalah bipolar, epilepsi, sifilis, gangguan kepribadian ambang, cycloid psychosis dan skizofrenia.


Kini, lukisan The Starry Night terpajang di Museum of Modern Art (MoMA) di New York City, Amerika Serikat.

Sumber: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Death_of_Vincent_van_Gogh
https://www.nature.com/news/2006/060703/full/news060703-17.html
https://www.google.com/amp/s/news.artnet.com/art-world/van-gogh-mental-illness-cause-653141/amp-page

perempuan, mencari aman lewat botol semprotan

Bukan tanpa alasan siang itu kuputuskan untuk membeli semprotan gas air mata. Walau bentuknya semungil botol parfum, namun semprotan itu membuatku merasa aman selama bekerja di kantor.

Setelah pembelian impulsif itu lunas, seorang kawanku berkomentar begini, “Reaksi kamu tuh terlalu berlebihan.” Aku cuma menjawab, “Anak perempuan bapak ‘kan seumuran saya. Coba bapak belikan satu untuk dia, siapa tahu dia butuh.” Memang agak seram menyarankan pembelian semprotan gas air mata untuk seorang anak perempuan. Namun mau bagaimana lagi?

Semprotan itu tak pernah lepas dariku. Selalu ada dalam tas tangan, terkubur dalam kantung celana, kuselipkan di saku jaket setiap hari. Kalau-kalau aku perlu bekerja ekstra hingga lewat adzan maghrib, aku tidak perlu mengkhawatirkan adanya pria berumur di kantor yang fantasinya ingin punya istri muda. Setidaknya aku punya semprotan itu untuk membela diri – atau memberi waktu lebih untuk lari.

Waktu berlalu. Pria dengan fantasi itu juga sudah tidak muncul. Resign, kata beberapa orang. Namun di hari ia berpamitan dengan rekan-rekan sejawat, ia berusaha menggamit pinggangku di depan banyak orang. Tidak, terima kasih – aku menghindar dengan mulus. Tidak ada yang sadar. Semua orang akan mengenalnya sebagai laki-laki sukses yang sebentar lagi mengundurkan diri. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang tahu kalau berulang kali ia mengajakku sekadar santap siang bersama atau sebuah traktiran. Tidak ada yang tahu kalau berulang kali juga aku bilang tidak mau.

Waktu berlalu. Semprotan gas itu masih lekat di saku. Dan nomornya sudah terblokir dari aplikasi pengirim pesanku.

Namun tidak ada yang lebih membekas – selain malu – dari rasa jijik dan takut.

peringatan

jangan jatuh cinta padaku
kamu akan kesal karena terbangun oleh
keraguan dan mimpi burukku di larut malam

jangan jatuh cinta padaku
kamu akan kewalahan meredam
emosi yang terlalu banyak kumiliki dalam sehari

jangan jatuh cinta padaku
kamu akan lelah bersanding dengan kekasih
yang di masa lalu acap bersetubuh dengan sendu

jangan jatuh cinta padaku
aku takut
aku takkan pernah cukup untukmu

There’s No Bruce Willis to Save Planet Earth on Lars Von Trier’s Melancholia

Setelah menonton Melanchonia, rasanya Justine dan Claire mewakili beberapa perasaanku. Bedanya, dunia yang dikenal Justine dan Claire akan segera punah – dan tidak akan ada Bruce Willis yang akan menyelamatkan Planet Bumi.

Di tulisan yang sebelumnya, aku menyebutkan bahwa opening sequence dari film Melancholia adalah salah satu adegan yang aku favoritkan. Dalam menit-menit awal film, kita akan disuguhkan dengan detik-detik planet Melancholia menabrak planet Bumi dalam slow motion, salah satunya adegan Justine hanyut di sungai dalam balutan gaun pernikahan.

images (9)

(Nampaknya von Trier menjadikan adegan itu sebagai referensi dari lukisan Ophelia, pelukis John Everett Millais).

download

Dalam beberapa adegan selanjutnya, jika kamu memperhatikan relasi antara Michael dan Justine dalam pesta, kita bisa melihat kalau Michael tidak sepenuhnya mengenal Justine. Dalam beberapa kesempatan, Michael menatap kosong Justine dan kebingungan. Apakah Michael tahu tentang kondisi Justine?

Sementara itu, Justine tampak ceria. Ia tertawa dan tersenyum lebar pada semua orang – bahkan ketika ia masih dikejar-kejar pekerjaan ketika Jack (Stellan Skarsgard) mengungkit soal slogan yang perlu diciptakan Justine (Jack kurang ajar juga, sih. Jika seseorang membicarakan pekerjaan di pesta pernikahanku, aku akan menyiramnya dengan benda cair apapun yang ada di depanku sebelum mengusirnya saat itu juga).

Suasana semakin intens ketika Justine tak lagi bisa membendung suasana hatinya. Ia mencuri waktu sedikit-sedikit untuk menyelinap keluar sendirian, ia kesulitan untuk membuka diri terhadap orang-orang di sekitarnya (bahkan Michael), mantap-mantap dengan lelaki yang baru lima menit dikenalnya di tengah lapangan golf, resign dari pekerjaannya dan puncaknya, ia mengakhiri pernikahannya di akhir hari.

JUSTINE

I smile, I smile, I smile and I smile-

CLAIRE

-And you’re lying, to all of us!

Claire merasa kebas. Semua orang kebas menghadapi Justine dan mulai kehilangan kesabaran mereka. Dan sesungguhnya, semua orang rasanya kebas ketika menghadapi orang-orang yang sedang terpuruk. Don’t behave that way, don’t be like this. Rasanya kata-kata itu familiar diucapkan oleh orang-orang yang letih berhadapan dengan keterpurukan orang lain.

The world doesn’t revolves around you, mereka bilang. Namun apa lagi yang perlu kulakukan agar aku cukup di mata orang lain? Apa sih bahagia yang mereka cari?

Justine kesulitan membuka dirinya terhadap orang-orang di sekitarnya. Tidak, kurasa ia sudah cukup lama merasakan kehampaan itu. Kurasa Justine pernah mendiskusikannya – dan masih ingin mendiskusikan tentang perasaannya lebih detail, namun tidak ada orang yang benar-benar ingin mengerti dirinya (bahkan ayahnya). Only her sister Claire would put up with her.

Banyak orang yang kesulitan membuka dirinya karena kecewa terhadap reaksi yang akan mereka terima. Pernah ngga, kamu sudah curhat panjang lebar dan dijawab dengan, “Ah, aku lebih parah, ceritaku begini…” atau, “Itu tidak parah kok, masih banyak orang yang lebih susah dari kamu…” kalau kamu mendapat respon itu dari psikologmu, percayalah, dia bukan psikolog. He/she is a drinking buddy.

Suasana kembali berubah ketika transisi antara bagian Justine dan Claire. Justine menyadari bahwa rasi bintang yang ia lihat di malam resepsinya tidak terlihat lagi. Ternyata sebuah planet akan mengakhiri planet mereka dalam waktu dekat.

Kepanikan Claire menghadapi akhir dunia bukannya nggak berdasar. Claire masih memiliki seorang anak. Sebagai seorang ibu, Claire tentu mau melihat anaknya tumbuh besar. Ia juga enggan dijemput ajal sebelum kondisi adiknya membaik. Claire kemungkinan juga takut mati, sebuah ketakutan yang menurutku manusiawi. Tidak ada orang di dunia yang tahu jelas apa rasanya mati. Sama seperti manusia takut gelap, manusia takut pada apa yang bersembunyi dalam kegelapan itu. Kita, manusia takut pada hal-hal nggak mereka pahami dan ketahui sebelumnya.

Berbeda dengan Justine yang menerima kenyataan bahwa dunia akan berakhir sebentar lagi, Claire baru bisa tenang setelah suaminya John berkali-kali menyakinkannya kalau semua akan berakhir baik. Namun dance of death planet Melancholia berkata lain – planet itu berputar arah dan kembali menyasar Bumi. John sebagai ilmuwan yang meyakinkan istrinya justru harus menelan ludahnya sendiri dan terpaksa menerima kalau perhitungannya dan ilmuwan lain salah besar. John juga takut, namun ia membuat pilihan. John masih ingin memiliki kontrol atas kehidupannya… tanpa sepengetahuan Claire.

Pada akhirnya, Claire yang masih berduka perlu berduka untuk satu kali lagi, yang terakhir; untuk masa depannya.

Keinginan Claire untuk menikmati hari terakhirnya di Bumi nggak disambut oleh Justine. Sebaliknya, Justine memilih untuk menghabiskan waktu-waktu terakhirnya bersama Leo dan Claire dalam gua ajaib yang dibangunnya bersama Leo di teras rumahnya.

Kiamat pun tak terhindarkan.

Lars Von Trier melukiskan semuanya dalam narasi yang sedikit namun pas dan cerdas. Kali ini, tidak akan ada pahlawan yang menyelamatkan planet Bumi dari kepunahan. Tidak ada yang bisa berbuat apa-apa, selain menerima ketidakpastian masa depan. Kirsten menampilkan karakter Justine yang diam-diam bisa membuat para penotonnya berujar, “I can relate to her.” Charlotte pun begitu, dengan menyingkap ketakutan kita dalam kehidupan sehari-hari; apa yang akan terjadi besok, ya?

images (6)