introduction // first entry

to all the readers i haven’t met yet,

just for the record, english isn’t my first language. i’m terribly sorry if my english is not that good and i hope you all won’t mind. i’m filling my blog with two languages, english and indonesian.

i’m writing this in my office because i openly hate my job. i hate it so much i could die by just hating it.

oh, sorry. pardon my bluntness. i am catherine, i am almost nineteen at present. i just accepted in a small company almost three months ago. i’m working as a finance staff with tons of tasks i don’t even fully understand. well, maybe that caused by a) i’m from a vocational school with secretary major and b) i’m not a fan of mathematics. i’m started to think that this is all about karma; one day when i was in school, i prayed to God that my math teacher stepped on a Lego so she couldn’t come to the class. turns out, i got a job in finance department and i can’t do anything right since i came here.

sometimes, i imagine what if i went to college. meet new friends, argue with professors, be a normal teenager… but reality never failed to woke me up. “you’re broke as hell, don’t even think about it. now work your ass off and may you dead inside!” reality exclaimed. so, i woke up and stopped imagining. i wake up every day and pretend to not dying, that what it felt like to stopped imagining.

but recently, i started to imagine again. not about college. not about get my ass in a popular university. something else. something different. something better.

shit, my boss just saw me blogging. i gotta go. fasten your seatbelt because this is gonna be a long ride!

perempuan, mencari aman lewat botol semprotan

Bukan tanpa alasan siang itu kuputuskan untuk membeli semprotan gas air mata. Walau bentuknya semungil botol parfum, namun semprotan itu membuatku merasa aman selama bekerja di kantor.

Setelah pembelian impulsif itu lunas, seorang kawanku berkomentar begini, “Reaksi kamu tuh terlalu berlebihan.” Aku cuma menjawab, “Anak perempuan bapak ‘kan seumuran saya. Coba bapak belikan satu untuk dia, siapa tahu dia butuh.” Memang agak seram menyarankan pembelian semprotan gas air mata untuk seorang anak perempuan. Namun mau bagaimana lagi?

Semprotan itu tak pernah lepas dariku. Selalu ada dalam tas tangan, terkubur dalam kantung celana, kuselipkan di saku jaket setiap hari. Kalau-kalau aku perlu bekerja ekstra hingga lewat adzan maghrib, aku tidak perlu mengkhawatirkan adanya pria berumur di kantor yang fantasinya ingin punya istri muda. Setidaknya aku punya semprotan itu untuk membela diri – atau memberi waktu lebih untuk lari.

Waktu berlalu. Pria dengan fantasi itu juga sudah tidak muncul. Resign, kata beberapa orang. Namun di hari ia berpamitan dengan rekan-rekan sejawat, ia berusaha menggamit pinggangku di depan banyak orang. Tidak, terima kasih – aku menghindar dengan mulus. Tidak ada yang sadar. Semua orang akan mengenalnya sebagai laki-laki sukses yang sebentar lagi mengundurkan diri. Tidak ada yang melihat. Tidak ada yang tahu kalau berulang kali ia mengajakku sekadar santap siang bersama atau sebuah traktiran. Tidak ada yang tahu kalau berulang kali juga aku bilang tidak mau.

Waktu berlalu. Semprotan gas itu masih lekat di saku. Dan nomornya sudah terblokir dari aplikasi pengirim pesanku.

Namun tidak ada yang lebih membekas – selain malu – dari rasa jijik dan takut.

peringatan

jangan jatuh cinta padaku
kamu akan kesal karena terbangun oleh
keraguan dan mimpi burukku di larut malam

jangan jatuh cinta padaku
kamu akan kewalahan meredam
emosi yang terlalu banyak kumiliki dalam sehari

jangan jatuh cinta padaku
kamu akan lelah bersanding dengan kekasih
yang di masa lalu acap bersetubuh dengan sendu

jangan jatuh cinta padaku
aku takut
aku takkan pernah cukup untukmu

There’s No Bruce Willis to Save Planet Earth on Lars Von Trier’s Melancholia

Untuk pertama kali, aku mengunjungi sebuah layanan konsultasi ke psikolog pertengahan 2019 lalu. Dalam sebuah form yang perlu kujawab, ada pertanyaan seperti ini; masalah apa yang mendorong anda untuk mencari layanan konseling? Ada beberapa opsi yang tersedia. Masalah dalam relasi personal, centang. Gangguan suasana hati, centang. Stress dan kecemasan, centang. Jika disimpulkan, gangguan suasana hati dan kecemasan yang kumiliki pada saat itu (dan sekarang masih) menjadi akar permasalahanku dalam membina relasi personal.

Setelah menonton Melanchonia, rasanya Justine dan Claire mewakili beberapa perasaanku. Bedanya, dunia yang dikenal Justine dan Claire akan segera punah – dan tidak akan ada Bruce Willis yang akan menyelamatkan Planet Bumi.

Di tulisan yang sebelumnya, aku menyebutkan bahwa opening sequence dari film Melancholia adalah salah satu adegan yang aku favoritkan. Dalam menit-menit awal film, kita akan disuguhkan dengan detik-detik planet Melancholia menabrak planet Bumi dalam slow motion, salah satunya adegan Justine hanyut di sungai dalam balutan gaun pernikahan.

images (9)

(Nampaknya von Trier menjadikan adegan itu sebagai referensi dari lukisan Ophelia, pelukis John Everett Millais).

download

Dalam beberapa adegan selanjutnya, jika kamu memperhatikan relasi antara Michael dan Justine dalam pesta, kita bisa melihat kalau Michael tidak sepenuhnya mengenal Justine. Dalam beberapa kesempatan, Michael menatap kosong Justine dan kebingungan. Apakah Michael tahu tentang kondisi Justine?

Sementara itu, Justine tampak ceria. Ia tertawa dan tersenyum lebar pada semua orang – bahkan ketika ia masih dikejar-kejar pekerjaan ketika Jack (Stellan Skarsgard) mengungkit soal slogan yang perlu diciptakan Justine (Jack kurang ajar juga, sih. Jika seseorang membicarakan pekerjaan di pesta pernikahanku, aku akan menyiramnya dengan benda cair apapun yang ada di depanku sebelum mengusirnya saat itu juga).

Suasana semakin intens ketika Justine tak lagi bisa membendung suasana hatinya. Ia mencuri waktu sedikit-sedikit untuk menyelinap keluar sendirian, ia kesulitan untuk membuka diri terhadap orang-orang di sekitarnya (bahkan Michael), mantap-mantap dengan lelaki yang baru lima menit dikenalnya di tengah lapangan golf, resign dari pekerjaannya dan puncaknya, ia mengakhiri pernikahannya di akhir hari.

JUSTINE

I smile, I smile, I smile and I smile-

CLAIRE

-And you’re lying, to all of us!

Claire merasa kebas. Semua orang kebas menghadapi Justine dan mulai kehilangan kesabaran mereka. Dan sesungguhnya, semua orang rasanya kebas ketika menghadapi orang-orang yang sedang terpuruk. Don’t behave that way, don’t be like this. Rasanya kata-kata itu familiar diucapkan oleh orang-orang yang letih berhadapan dengan keterpurukan orang lain.

The world doesn’t revolves around you, mereka bilang. Namun apa lagi yang perlu kulakukan agar aku cukup di mata orang lain? Apa sih bahagia yang mereka cari?

Justine kesulitan membuka dirinya terhadap orang-orang di sekitarnya. Tidak, kurasa ia sudah cukup lama merasakan kehampaan itu. Kurasa Justine pernah mendiskusikannya – dan masih ingin mendiskusikan tentang perasaannya lebih detail, namun tidak ada orang yang benar-benar ingin mengerti dirinya (bahkan ayahnya). Only her sister Claire would put up with her.

Banyak orang yang kesulitan membuka dirinya karena kecewa terhadap reaksi yang akan mereka terima. Pernah ngga, kamu sudah curhat panjang lebar dan dijawab dengan, “Ah, aku lebih parah, ceritaku begini…” atau, “Itu tidak parah kok, masih banyak orang yang lebih susah dari kamu…” kalau kamu mendapat respon itu dari psikologmu, percayalah, dia bukan psikolog. He/she is a drinking buddy.

Suasana kembali berubah ketika transisi antara bagian Justine dan Claire. Justine menyadari bahwa rasi bintang yang ia lihat di malam resepsinya tidak terlihat lagi. Ternyata sebuah planet akan mengakhiri planet mereka dalam waktu dekat.

Kepanikan Claire menghadapi akhir dunia bukannya nggak berdasar. Claire masih memiliki seorang anak. Sebagai seorang ibu, Claire tentu mau melihat anaknya tumbuh besar. Ia juga enggan dijemput ajal sebelum kondisi adiknya membaik. Claire kemungkinan juga takut mati, sebuah ketakutan yang menurutku manusiawi. Tidak ada orang di dunia yang tahu jelas apa rasanya mati. Sama seperti manusia takut gelap, manusia takut pada apa yang bersembunyi dalam kegelapan itu. Kita, manusia takut pada hal-hal nggak mereka pahami dan ketahui sebelumnya.

Berbeda dengan Justine yang menerima kenyataan bahwa dunia akan berakhir sebentar lagi, Claire baru bisa tenang setelah suaminya John berkali-kali menyakinkannya kalau semua akan berakhir baik. Namun dance of death planet Melancholia berkata lain – planet itu berputar arah dan kembali menyasar Bumi. John sebagai ilmuwan yang meyakinkan istrinya justru harus menelan ludahnya sendiri dan terpaksa menerima kalau perhitungannya dan ilmuwan lain salah besar. John juga takut, namun ia membuat pilihan. John masih ingin memiliki kontrol atas kehidupannya… tanpa sepengetahuan Claire.

Pada akhirnya, Claire yang masih berduka perlu berduka untuk satu kali lagi, yang terakhir; untuk masa depannya.

Keinginan Claire untuk menikmati hari terakhirnya di Bumi nggak disambut oleh Justine. Sebaliknya, Justine memilih untuk menghabiskan waktu-waktu terakhirnya bersama Leo dan Claire dalam gua ajaib yang dibangunnya bersama Leo di teras rumahnya.

Kiamat pun tak terhindarkan.

Lars Von Trier melukiskan semuanya dalam narasi yang sedikit namun pas dan cerdas. Kali ini, tidak akan ada pahlawan yang menyelamatkan planet Bumi dari kepunahan. Tidak ada yang bisa berbuat apa-apa, selain menerima ketidakpastian masa depan. Kirsten menampilkan karakter Justine yang diam-diam bisa membuat para penotonnya berujar, “I can relate to her.” Charlotte pun begitu, dengan menyingkap ketakutan kita dalam kehidupan sehari-hari; apa yang akan terjadi besok, ya?

images (6)

Review Melancholia (2011), No Spoiler

Melancholia dibagi dalam dua bagian; bagian Justine adalah yang pertama, yang menceritakan tentang resepsi pernikahan Justine (Kirsten Dunst) dengan suaminya, Michael (Alexander Skarsgard). Claire (Charlotte Gainsbourg) selaku kakak Justine mempersiapkan acara resepsi itu sesempurna mungkin. Tapi ya, mana ada yang sempurna? Justine dan Michael terlambat dua jam ke resepsi mereka sendiri karena limosin yang mereka sewa tidak bisa melewati jalan desa, jadi mereka terpaksa berjalan kaki menuju rumah sang kakak.

images (8)

Setibanya di resepsi, Justine dan Michael segera menyusul keterlambatan mereka dan memulai pesta. Namun ada sesuatu yang mengganggu Justine – tidak terlihat, tapi ada. Gangguan itu makin membesar. Claire tahu. Ibu Justine tahu. Ayah Justine tidak mau tahu. Namun mereka semua – termasuk Justine sendiri – berusaha menyembunyikan kesehatan mental wanita itu dari para tamu undangan dan keluarga Michael.

Di sepanjang pesta pernikahannya sendiri, Justine sangat melankolis.

Bagian Claire adalah bagian kedua, yang langsung melanjutkan bagian pertamanya; selepas pesta resepsi, kondisi Justine bertambah parah; ia dibawa berobat ke dokter karena depresi yang ia alami semakin memburuk dan ia dalam kondisi katatonik. Justine tidak mau makan, tidak mau mandi, dan ia bahkan tidak bisa merasakan rasa daging sapi kesukaannya.

Di tengah situasi itu, Claire berusaha tenang dan positif untuk keluarga serta adiknya; tapi ada berita yang beredar bahwa sebuah planet bernama Melancholia akan bertabrakan dengan Bumi dalam beberapa hari ke depan. Claire justru makin panik. Ia mencemaskan masa depan, terutama masa depan anak tunggalnya Leo (Cameron Spurr) yang masih muda. Suami Claire, John (Kiefer Sutherland) pun berusaha menenangkan istrinya dengan pengetahuan, bagaimanapun ia seorang ilmuwan.

Film ini utamanya bercerita tentang depresi dan kecemasan dalam masa depan – masa yang pasti akan datang, namun darimana kamu tahu akhirnya akan jadi seperti apa?

***

Melancholia unggul dalam banyak hal. Sinematografinya ciamik, penulisan naskahnya rapi dan aku paling suka opening sequence dan scoring-nya.

images (7)

Kebanyakan adegan yang ada tidak diiringi musik latar apapun, jadi kamu akan bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah ini? Performa Kirsten dan Charlotte sebagai dalam perannya – terutama dalam menampilkan depresi dan kecemasan – sangat memuaskan dan pas.

Untuk review yang lebih rinci dan mengandung spoiler, aku sarankan kamu mulai membaca judul selanjutnya.